Senin, Maret 04, 2019

SINOPSIS Between Friendship and Love 3 Episode 5

PS : All images credit and content copyright : Naver TV Cast


EPISODE 5
Sinseol-dong, Sansa’s One-Sided Love


Woojung sedang berada di stasiun dia mengirimkan pesan kepada Sarang, bertanya kenapa Sarang akhir-akhir ini tidak membalas pesannya dengan cepat atau apakah mungkin sarang sangat sibuk.
Tiba-tiba Maeum menyapanya, membuat Woojung sedikit terkejut namun akhirnya dia tersenyum berbohong, mengatakan kalo dia baru saja ingin mengirimi Maeum pesan. Hal itu tentu saja membuat Maeum tersipu malu.


Melihat sebuah iklan yang ada di stasiun membuat Maeum menanyakan kalo itu iklan yang Woojung buat bukan, dan oojung membenarkannya, karena kado dari Maeum dia mendapatkan ide-ide itu, halah gombal banget ini orang.

Yang lagi-lagi membuat Maeum tersipu.


Melihat kalung yang pembiannya di pakai, Woojung sangat senang sekali lalu menanyakan apa yang sebaiknya mereka lakukan akhir pecan ini, mungkin sabtu mereka bisa menonton film Murakami dan minggunya mereka bisa menonton Han River atau Chiken and Beer. 

Maeum kalo Minggu tidak bisa karena harus ke kuil, jawaban yang membuat Woojung terkejut jika Maeum akan mengatakan seperti itu, akhirnya Woojung mengajak Maeum untuk pergi seharian selama hari sabtu.


Maeum menyetujuinya, dan saat Woojung menawarkan lengannya untuk Maeum gandeng, karena Maeum masih malu jadi suasana menjadi canggung dan dengan salah tingkah Woojung langsung mengajak Maeum langsung jalan aja.


Kantor Sarang malam itu sudah sepi, Pd Woo yang duduk di depan meja Sarang memperhatikan Sarang sambil membereskan berkas-berkasnya. Sementara sarang masih saja memikirkan tentang seseorang yang bernama Maeum, rasa kesalnya masih dia rasakan.

Di tengah lamunannya itu Pd Woo menanyakan apa Sarang nggak pulang, dan baru sadar jika kantor sudah sepi, bahkan Sarang tidak ingat kapan mereka semua pulang.

Pd Woo : “Dari yang aku lihat kamu tidak dalam keadaan sedang menyelesaikan banyak script hari ini.”

Sarang hanya memberikan reaksi datar, tau kalo dari tadi dia banyak melamun.


Sebelum pulang Pd Woo memberikan Sarang sebuah buku, Sarang yang bingung menanyakan itu buku apa dan tanpa memberikan penjelasan apapun Pd Woo langsung pamit untuk pulang.


Sarang mulai membuka-buka bukunya dan ada satu sub judul yang menarik perhatiannya.
Sarang : “Timing..”
Ini adalah pengaturan waktu yang tepat untuk cinta satu pihak
Satu pesan dari Woojung masuk namun Sarang mengabaikannya dan kembali membaca buku itu.


Jika kamu sudah melakukan sebanyak ini
Itu sudah cukup
Kamu tidak perlu di sakiti lagi
Ini saatnya untuk kamu mencintai dirimu sendiri


Sarang mulai membaca halaman demi halaman, sampai dia tidak sadar bahwa dia sudah menghabiskan waktunya untuk membaca keseluruhan buku itu. 

Di halaman terakhir ada sebiah note yang Pd Woo tinggalkan..

Meskipun kamu mengalami kesulitan

Yang bisa aku lakukan untuk kamu hanyalah ini.

Keseluruhan buku itu dan pesan dari Pd Woo membuat Sarang merenungi banyak hal mala mini.


Sarang berjalan dan terkejut menemukan Pd Woo sedang duduk sambil bekerja. Sarang mengatakan dia baru saja pergi untuk membeli beberapa beer karena dia merasa tidak bisa focus lalu akan kembali menulis, dia ikut duduk di depan Pd Woo.

Sarang menawarkan minuman kaleng itu pada Pd Woo dan Pd Woo menerimanya.


Sarang : “Kamu katanya pulang, terus kenapa sekarang di sini?”
Pd Woo : “Jujur, sebenarnya masih ada beberapa hal yang harus aku selesaikan.”
Sarang : “Maka kamu harus melakukan itu di kantor, kenapa di sini?”
Pd Woo : “Karena kamu merasa tidak nyaman. Saat itu hanya ada kita berdua. Yah, itu juga menyenangkan.”

Mendengar hal itu membuat sarang tidak enak, dia meminta maaf karena dirinya Pd Woo malah memilih kerja di luar, Pd Woo tidak masalah baginya sarang hanya perlu menulis skrip dengan baik. Lalu dia mengajak Sarang bersulang dan Sarang tersenyum menerima tawaran itu.


Setelah menghabiskan 2 botol Sarang mulai sedikit mabuk, melihatnya membuat Pd Woo tersenyum, baginya sarang yang sedikit mabuk itu imut. Btw sekarang sarang udah pindah duduk di samping Pd Woo.

Sarang bertanya sejak kapan Pd Woo mulai menyukainya, kenapa Pd Woo tidak memperlihatkan kalo dia menyukai Sarang.


Pd Woo mengatakan kalo dia menunjukkan perasaannya dengan sangat jelas, dulu dia selalu memperhatikan Sarang namun Sarang tidak menyadarinya, bahkan waktu Sarang bilang jika Pd Woo terlihat bagus mengenakan baju itu, dari saat itu Pd Woo selalu pake baju itu waktu lagi kerja.
Sarang tertawa menyadari fakta itu.


Sarang : “Lain kali kamu menyukai seorang gadis, buat itu sangat jelas. Ada titik dimana kamu merasa itu sangat.”

Pd Woo : “tidak ada yang berikutnya..”

Mendengarnya membuat sarang sedikit merasa kecewa bagaimana mungkin Pd Woo begitu yakin bukankah hati seorang pria itu seperti bulu tipis, yang tidak menentu. Pd Woo menyangkalnya, dia tidak akan membuat orang kebingungan.

Bagi sarang Pd Woo itu sangat menarik, seseorang yang memperhatikan dengan seksama dan sangat mandiri.

Pd Woo : “Mungkin itu karena ibuku meninggal lebih awal dan aku harus memikirkannya sendiri. Aku pernah melihat ibuku menangis, tetapi aku terlalu muda untuk melakukan apapun.”


Pd Woo : “Jika itu sekarang, apakah aku bisa menghiburnya?”
Pd Woo teringat saat dia melihat Sarang menangis waktu itu dan merasa masih saja sama, gagal membuat orang yang dia sayangi terhibur saat menangis.


Sarang : “Aku pikir  kamu mungkin sudah melakukannya.”


Saat itulah aku tau
Pengakuan orang ini tidak bisa dianggap enteng
Mendengar semua cerita Pd Woo membuat Sarang merasa tersentuh dan ingin menghiburnya, setidaknya sedikit saja. Dia ingin mengenggam tangan Pd Woo untuk menenangkan namun terlalu ragu, dia tidak seberani itu. Saat tangan Sarang menjauh, Pd Woo mengenggamnya dan mengatakan terima kasih.


Belum juga 10 detik pegangan, Sarang mendapat telpon. Memaksa Pd Woo untuk iklas melepaskan tangan itu dan dengan besar hati meminta sarang untuk mengangkat telponnya.

Itu dari Woojung, melihat namanya ada di layar ponselnya Sarang dengan gugup mengatakan kalo dia tidak ingin mengangkat telponnya, lalu memasukan ponselnya kembali ke saku.

Aku tidak menerima telepon dari orang yang membuat aku bingung di depan orang yang tidak membuatku bingung.


Suasana yang tadinya sudah canggung sekarang menjadi semakin canggung lagi, Sarang dan Pd Woo menghabiskan waktu cukup lama malam itu.

Comments


EmoticonEmoticon